Anies Baswedan Hadir Di Unair, Tekankan Pentingnya Meritrokasi Pada Kondisi Demokrasi Indonesia Saat Ini

0
143
https://beritaadikara.com/diundang-menjadi-pembicara-di-unair-anies-baswedan-tekankan-pentingnya-meritrokasi-pada-kondisi-demokrasi-indonesia-saat-ini/

Pada hari jumat, 26 September 2025. Anies Baswedan diundang menjadi pembicara pada acara di Universitas Airlangga, tepatnya pada gedung auditorium ternate yang terletak pada Airalngga Sharia & Entrepreneurship Education Center atau yang biasa disebut ASEEC Tower. Acara tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa (HIMA) Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR yang bertemakan “Demokrasi dan Meritokrasi di Persimpangan: Bagaimana Jalan Perubahan Kita?ā€

Sejak siang hari setelah ibadah Shalat Jumat Selesai. Antusiasme para mahasiswa maupun masyarakat umum mulai nampak terlihat dari dalam hingga pada halaman sekitar gedung ASEEC. para mahasiswa dan masyarakat sudah mulai banyak mengantri untuk menunggu giliran masuk Venue meskipun venue acara tersebut baru mulai dibuka sekitar 15 menit sebelum acara dimulai. kursi kursi para penonton pun satu persatu mulai diisi oleh para mahasiswa yang sudah tidak sabar untuk mendengarkan dialog mantan Gurberner DKI Jakarta periode 2017-2022 tersebut.

Kondisi di dalam gedung auditorium ternate pun tampak sangat padat. banyak dari mahasiswa dan masyarakat umum yang sampai tidak kebagian tempat duduk dan harus terpaksa untuk duduk di lantai melingkari panggung tempat anies baswedan berdialog. hingga pada akhirnya pada pukul 13.26 WIB, Anies Baswedan pun hadir pada acara tersebut. kedatangan beliau disambut para penonton dengan sangat antusias diikuti dengan sorakan dan tepuk tangan yang meriah dari seluruh penjuru venue.

Suasana diskusi tidak hanya formal, tetapi juga interaktif. Anies membuka ruang dialog dua arah, mengajak mahasiswa menyampaikan pandangan mereka dan berdiskusi terkait isu-isu krusial dalam demokrasi Indonesia. Baginya, perguruan tinggi adalah ruang terbaik untuk menyemai gagasan kritis yang kelak bisa diterjemahkan menjadi aksi nyata di masyarakat.

Dalam paparannya, Anies sempat menyinggung gelombang demonstrasi mahasiswa yang berlangsung beberapa waktu lalu. Ia mengingatkan bahwa aksi massa kerap menjadi sasaran pihak tidak bertanggung jawab yang mencoba menyelipkan kerusuhan demi mendeligitimasi gerakan damai.

ā€œKadang, karena tidak ingin dianggap sebagai perusuh, mahasiswa yang berunjuk rasa mundur dan menarik diri. Padahal, esensi perjuangan mereka justru penting bagi demokrasi,ā€ ujarnya.

Anies menekankan bahwa mahasiswa perlu menjaga disiplin dalam setiap aksi publik. Tuntutan harus dirumuskan dengan jelas, aksi harus dijalankan dengan tertib, serta penting untuk mewaspadai aktor-aktor yang berusaha menunggangi gerakan. Bagi Anies, menjaga marwah aksi damai berarti menjaga demokrasi tetap sehat.

Poin penting lainnya yang disoroti Anies adalah kaitan erat antara demokrasi, generasi muda, dan teknologi digital. Menurutnya, anak muda memiliki kelebihan tersendiri: mereka relatif bebas dari beban masa lalu yang kerap membatasi kreativitas.

ā€œGenerasi muda punya keberanian melahirkan ide segar. Di era digital, satu gagasan bisa tersebar luas hanya lewat media sosial, menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat,ā€ kata Anies.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa teknologi bukan tanpa risiko. Tanpa aturan main yang jelas, ruang digital bisa berubah menjadi arena yang justru merusak demokrasi. Kebebasan harus tetap berjalan dalam kerangka hukum dan regulasi yang sehat, agar demokrasi tidak terjebak dalam anarki.

Di hadapan ribuan mahasiswa, Anies memberi tekanan khusus pada pentingnya meritokrasi dalam tata kelola bangsa. Ia menolak sistem di mana jabatan publik diberikan semata-mata karena kedekatan personal atau patronase politik.

ā€œMeritokrasi berarti memberi ruang bagi mereka yang memang pantas, bukan karena punya koneksi atau kedekatan dengan penguasa,ā€ tegasnya.

Namun, ia menambahkan bahwa meritokrasi tidak boleh dipahami secara kaku. Menurutnya, sistem kompetisi murni berpotensi memperlebar kesenjangan jika tidak disertai kebijakan afirmatif. Anies mencontohkan kesenjangan antar daerah yang bisa semakin tajam bila negara tidak hadir memberi dukungan tambahan bagi kelompok yang tertinggal.

ā€œOlimpiade Sains Nasional bisa jadi contoh meritokrasi murni. Anak dari kota besar maupun daerah terpencil bisa bersaing di level yang sama. Tapi dalam pembangunan negara, perlu ada koreksi agar kompetisi tidak melanggengkan ketidakadilan,ā€ paparnya.

Leave a reply