Infrastruktur Kuat Jadi Modal, Arbayanto Sebut Ekonomi Jatim Siap Topang Pertumbuhan Nasional

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur dari Fraksi Demokrat, Arbayanto
SURABAYA | BERITA ADIKARA – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur dari Fraksi Demokrat, Arbayanto , menyatakan optimismismenya terhadap prospek ekonomi Jawa Timur. Menurutnya, Jatim memiliki potensi besar untuk tumbuh sejalan, atau bahkan melampaui, pertumbuhan ekonomi nasional yang didorong oleh kebijakan strategis pemerintah pusat.
Arbayanto menjelaskan bahwa program strategis nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), akan menggeser pola konsumsi rumah tangga menjadi belanja pemerintah. Hal ini, menurutnya, akan memicu peningkatan permintaan komoditas secara signifikan.
“Makan bergizi gratis itu kan sederhananya adalah belanja rumah tangga untuk memberi makan anak, itu digeser menjadi belanja pemerintah,” ujar Arbayanto. “Dapur-dapur MBG itu kan menyerap banyak komoditas, mulai beras, susu, telur, daging, sayur.”
Ia mencontohkan, kenaikan harga telur saat ini salah satunya disebabkan oleh serapan tinggi untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG. Ditambah dengan program strategis lain seperti peningkatan produksi beras melalui intervensi di sektor pertanian, semua ini dinilai akan mengarah pada peningkatan pertumbuhan ekonomi secara nasional.
Lebih lanjut, Arbayanto menegaskan bahwa Jawa Timur, sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua, secara otomatis akan merasakan dampak positif dari pertumbuhan nasional. Namun, ia berkeyakinan bahwa peran Jatim lebih dari sekadar pengikut.
“Pertanyaan pentingnya sebetulnya seberapa persen Jawa Timur itu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dia sama, di bawah, atau lebih tinggi?” tanyanya.
Arbayanto berpendapat bahwa secara historis, pertumbuhan ekonomi Jatim seringkali berada di atas rata-rata nasional.
Faktor utamanya adalah keunggulan infrastruktur yang sudah mapan dibandingkan provinsi lain.
“Kenapa? Karena infrastruktur Jawa Timur itu sudah jauh lebih baik daripada infrastruktur provinsi-provinsi yang lain di Indonesia. Sehingga otomatis ketika pertumbuhan ekonomi nasional itu tinggi, bisa jadi dimulai dari pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur,” jelasnya.
Ia menambahkan, modal infrastruktur yang sudah berjalan inilah yang menjadi tulang punggung perekonomian Jatim, meskipun ia mengamati alokasi APBD Jatim saat ini untuk infrastruktur baru relatif kecil.

Dari sisi pemerataan, Arbayanto menyoroti data Indeks Theil (Theil Index) Jawa Timur yang relatif rendah, yakni di kisaran 0,1 hingga 0,3 di sebagian besar wilayah. Angka ini, menurutnya, menunjukkan tidak ada kesenjangan yang tinggi antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat pendapatan masyarakat.
Namun, ia memberikan catatan khusus untuk wilayah Koordinator Wilayah (Korwil) Madiun yang memiliki Indeks Theil sangat tinggi.
Secara keseluruhan, Arbayanto mengapresiasi kinerja ekonomi pemerintahan Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Dardak yang dinilainya luar biasa.
“Tantangannya memang hanya mempertahankan dan itu bukan pekerjaan yang ringan. Karena ada beberapa tanggung jawab misalnya soal infrastruktur, soal kesejahteraan, berbagai macam penyetabilan angka indeks kinerja, dan sebagainya. Itu sudah dilakukan dengan baik,” tutupnya.









