Hendarman: Tes Kemampuan Akademik Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Fondasi Berpikir di Era Disrupsi

0
61
https://beritaadikara.com/hendarman-tes-ke…-di-era-disrupsi/

SURABAYA | BERITA ADIKARA– Perdebatan mengenai relevansi Tes Kemampuan Akademik (TKA) dalam sistem pendidikan nasional kembali menjadi sorotan. Analis Kebijakan Ahli Utama Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hendarman, menegaskan bahwa TKA tidak boleh direduksi sekadar sebagai ujian teknis atau beban tambahan bagi siswa semata.

Hendarman membedah urgensi TKA melalui kacamata filsafat ilmu, khususnya dari aspek ontologi. Menurutnya, TKA memegang peran krusial sebagai instrumen yang mengukur kapasitas intelektual generatif, bukan penguasaan materi yang sempit.

Ontologi TKA: Mengukur Struktur Berpikir

Hendarman menjelaskan bahwa secara ontologis, TKA menjawab pertanyaan mendasar mengenai apa yang sesungguhnya diukur dalam pendidikan.

Ia menekankan bahwa literasi membaca, penalaran matematis, dan kemampuan berpikir logis yang diujikan dalam TKA adalah fondasi berpikir yang memungkinkan seseorang menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).

“TKA pada dasarnya perlu dipandang sebagai pengakuan bahwa terdapat kompetensi akademik dasar yang bersifat esensial dan lintas konteks.

Maknanya, TKA tidak sedang mengukur hafalan, melainkan struktur kemampuan berpikir,” ujar Hendarman yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI.

Lebih lanjut, Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor ini menyoroti relevansi TKA di tengah era disrupsi informasi.

Ketika akses terhadap pengetahuan faktual semakin mudah, tantangan utama pendidikan bergeser pada kemampuan memilah, memahami, dan menggunakan informasi tersebut secara bertanggung jawab.

Oleh karena itu, TKA dinilai sebagai benteng untuk memastikan pendidikan tetap memiliki standar kompetensi akademik yang jelas.

Hendarman memperingatkan risiko yang mungkin timbul jika standar kompetensi akademik seperti TKA diabaikan.

Tanpa pijakan objektif yang terukur, dunia pendidikan dikhawatirkan akan terjebak dalam “relativisme penilaian”, di mana kualitas lulusan menjadi sulit dipertanggungjawabkansecara standar.

“Perspektif ini memahami TKA sebagai instrumen afirmasi bahwa pendidikan tetap memiliki inti akademik yang tidak boleh diabaikan,” pungkasnya.

Leave a reply