Antisipasi Penyebaran Virus Nipah, Dr. Benjamin Tekankan Pentingnya Keamanan Pangan

Dr. Benjamin menjelaskan bahwa virus Nipah, yang informasi awalnya berasal dari India, memiliki pola transmisi yang berbeda
SURABAYA | BERITA ADIKARA – Menyikapi kekhawatiran global terkait potensi penyebaran virus Nipah, Dr. Benjamin memberikan penjelasan komprehensif mengenai karakteristik virus, pola penularan, serta langkah preventif yang harus dilakukan masyarakat dan pemerintah.
Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa meskipun belum ada vaksin khusus, protokol kesehatan dan keamanan pangan menjadi kunci utama pencegahan.
Dr. Benjamin menjelaskan bahwa virus Nipah, yang informasi awalnya berasal dari India, memiliki pola transmisi yang berbeda dengan COVID-19. Jika COVID-19 menular melalui udara (airborne), virus Nipah cenderung menular melalui saluran pencernaan atau makanan (foodborne).
“Virus Nipah ini inangnya adalah kelelawar. Penularan terjadi ketika lendir atau air liur kelelawar menempel pada buah yang kemudian dikonsumsi manusia. Selain itu, sisa buah yang terkontaminasi juga bisa termakan oleh hewan ternak seperti babi, yang kemudian menularkannya kembali ke manusia melalui konsumsi daging,” ujar Dr. Benjamin.
Untuk memitigasi risiko penularan, Dr. Benjamin mengimbau masyarakat agar lebih selektif dalam mengonsumsi buah-buahan dan daging. Ia menekankan agar masyarakat menghindari buah yang bentuknya tidak utuh atau memiliki bekas gigitan hewan.
“Budaya kita sebenarnya sudah bagus, jika ada buah yang rusak biasanya tidak dimakan. Prinsipnya, konsumsilah buah yang utuh dan segar. Jangan memakan buah yang ada bekas gigitan binatang, terutama kelelawar,” tegasnya.
Dr Benjamin menyarankan agar masyarakat memasak daging hingga benar-benar matang (well done) dan menghindari konsumsi daging setengah matang (medium) untuk memastikan virus dan bakteri mati dalam proses pemanasan.
Dari sisi regulasi, Dr. Benjamin menyatakan bahwa koordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah dilakukan. Mengingat belum adanya tes spesifik seperti PCR antigen atau vaksin untuk Nipah, pengawasan difokuskan pada deteksi dini gejala melalui suhu tubuh.
“Di setiap bandara dan pelabuhan, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) sudah mengaktifkan detektor suhu (thermal scanner). Wisatawan asing atau siapa pun yang masuk dari luar negeri dan terdeteksi memiliki suhu tubuh tinggi akan langsung dikarantina sementara,” jelasnya.
Langkah ini dinilai krusial sebagai bentuk pencegahan masuknya virus dari luar negeri, mengingat vaksin dan pengobatan spesifik untuk virus Nipah masih dalam tahap penelitian. .
Dr Benjamin memastikan bahwa pengawasan di pintu masuk, baik jalur udara maupun laut, akan terus diperketat demi keamanan masyarakat.
“Intinya pencegahan ada dua: jaga kebersihan dengan memakan buah segar dan daging yang matang sempurna, serta pengawasan ketat terhadap orang yang masuk dari luar negeri,” pungkasnya.










