Gunung Semeru Meletus Lagi, Warga Dievakuasi & Peringatan Tinggi Diterbitkan

0
101
https://beritaadikara.com/gunung-semeru-meletus-lagi-warga-dievakuasi-peringatan-tinggi-diterbitkan/

Lumajang | Berita Adikara — Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi dengan serangkaian letusan besar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Erupsi tersebut tidak hanya memuntahkan kolom abu yang menjulang tinggi ke langit, tetapi juga memaksa ratusan warga dan pendaki untuk segera dievakuasi dari kawasan rawan. Pihak berwenang kini meningkatkan kewaspadaan, sementara otoritas penerbangan internasional turut menerbitkan peringatan terkait potensi bahaya abu vulkanik terhadap jalur udara.

Dalam laporan terbaru, ratusan orang yang berada di sekitar lereng Semeru segera dievakuasi setelah gunung setinggi 3.676 meter itu kembali mengalami erupsi signifikan. Lebih dari 900 warga yang bermukim di zona rawan terpaksa dipindahkan ke lokasi aman, sementara tim penyelamat berhasil mengevakuasi lebih dari 170 pendaki yang sempat terjebak di sekitar danau dekat kaki gunung, sekitar 6,4 kilometer dari kawah. Evakuasi dilakukan dalam kondisi penuh tantangan, mengingat medan yang terjal serta ancaman guguran lava dan awan panas.

Erupsi kali ini menghasilkan kolom abu yang sangat tinggi. Sumber internasional melaporkan bahwa abu vulkanik menyembur hingga lebih dari 6.500 kaki ke udara, menyebarkan material vulkanik ke berbagai arah dan menggelapkan langit di beberapa wilayah sekitar. Tingginya kolom abu tersebut langsung memicu kekhawatiran akan gangguan jalur penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat dan mengancam keselamatan penerbangan. Karena itu, Australia’s Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) menerbitkan peringatan merah bagi pilot dan maskapai yang melintas di wilayah tersebut.

Erupsi Semeru sepanjang 2025 memang tercatat cukup intens. Sejak awal tahun, gunung ini telah beberapa kali meletus, menunjukkan pola aktivitas yang meningkat. Pada 1 Januari 2025 saja, PVMBG mencatat lebih dari 10 letusan dalam rentang waktu kurang dari 18 jam. Letusan berikutnya terjadi pada 3 Januari dengan ketinggian kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak. Ledakan-letusan susulan terus berulang, termasuk erupsi pada 13 Februari yang disertai kolom abu setinggi 500 meter.

Peningkatan aktivitas kembali terjadi pada April dan Mei 2025. Pada 15 April, Semeru meletus hingga lima kali dalam satu pagi, mengirimkan kepulan asap setinggi 1.000 meter. Sementara itu, letusan pada 27 Mei menghasilkan kolom abu mencapai 1.200 meter, yang kembali disusul erupsi besar pada 21 Juni dengan ketinggian kolom yang sama. Deretan aktivitas tersebut menjadi penanda bahwa kondisi vulkanik Gunung Semeru masih sangat labil.

PVMBG sejak awal tahun menempatkan Semeru pada status Level II (Waspada). Meski bukan status tertinggi, kondisi ini tetap menunjukkan bahwa gunung berada dalam fase aktif dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat. Karena itu, warga dilarang mendekati kawasan sepanjang Besuk Kobokan sejauh maksimal 8 kilometer dari puncak, mengingat wilayah tersebut merupakan jalur klasik bagi aliran awan panas. Selain itu, masyarakat diminta menjaga jarak minimal 500 meter dari tepi sungai di sejumlah jalur lahar, karena potensi banjir lahar dingin dapat meningkat jika terjadi hujan deras.

Potensi bahaya yang dihadapi warga bukan hanya letusan abu dan lontaran material panas, tetapi juga ancaman awan panas guguran (APG), yang menjadi salah satu fenomena paling mematikan dalam aktivitas vulkanik. APG bergerak dengan kecepatan tinggi, membawa material panas dengan suhu ratusan derajat Celsius. Pada erupsi-erupsi sebelumnya, fenomena ini menimbulkan kerusakan cukup luas dan menghancurkan beberapa daerah pemukiman serta lahan pertanian.

Selain itu, musim hujan yang mulai mendekat membuat potensi lahar hujan menjadi kekhawatiran tersendiri. Material vulkanik yang mengendap di lereng gunung dapat terbawa arus air dan membentuk aliran lahar dingin yang dapat melanda permukiman atau menghancurkan jembatan dan jalan akses. Pemerintah daerah dan BPBD kini memperketat pengawasan di sepanjang sungai-sungai yang menjadi aliran lahar, terutama Besuk Kobokan yang sering membawa material dari puncak Semeru.

Sementara itu, tim penyelamat gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan lokal terus dikerahkan untuk memantau situasi di lapangan. Mereka memastikan warga yang dievakuasi mendapatkan kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal sementara, makanan, dan layanan kesehatan. Pemerintah juga membuka posko pengungsian di sejumlah titik aman di Lumajang, menyediakan fasilitas untuk menampung warga sampai kondisi dinyatakan stabil.

Meski kondisi masih fluktuatif, masyarakat di sekitar Semeru menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Mereka telah berkali-kali menghadapi erupsi gunung ini dalam beberapa tahun terakhir, termasuk letusan besar pada akhir 2021 yang menyebabkan kerusakan masif. Namun, semangat gotong royong dan kewaspadaan tetap tinggi, meski rasa cemas masih terasa terutama di wilayah yang berada dekat zona bahaya.

Pemerintah pusat melalui BNPB mengimbau masyarakat agar terus mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan tidak mempercayai kabar yang tidak jelas sumbernya. Situasi gunung api dapat berubah kapan saja, sehingga langkah-langkah mitigasi harus dilaksanakan dengan disiplin. Hingga kini, pemantauan aktivitas seismik, visual, dan termal terus dilakukan secara intensif untuk mengantisipasi kemungkinan erupsi susulan.

Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Semeru, perhatian publik kembali tertuju pada pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat di kawasan rawan bencana. Dalam beberapa hari mendatang, otoritas terkait diperkirakan akan terus memberikan pembaruan mengenai kondisi gunung serta langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.

Leave a reply