Lonjakan Harga Plastik Imbas Geopolitik Bawa Dampak Positif bagi Kesehatan, Ini Penjelasan Kepala BRIDA Jatim

0
34

SURABAYA | BERITA ADIKARA – Eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Israel turut memberikan dampak pada perekonomian global, salah satunya memicu kenaikan harga plastik yang cukup drastis di pasaran. Namun, di balik fenomena ekonomi tersebut, terdapat sisi positif yang patut disyukuri, khususnya dari perspektif kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur, Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes., menyampaikan bahwa tingginya harga plastik justru membawa hikmah tersendiri bagi upaya meminimalisir dampak buruk material tersebut. Menurutnya, plastik merupakan salah satu penyumbang masalah kesehatan dan lingkungan yang paling krusial.

“Plastik itu selain sulit terurai, juga menjadi sesuatu yang sangat membahayakan ketika berkontaminasi dengan makanan,” tegas Dr. Andriyanto.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahaya paparan panas terhadap plastik. Apabila plastik digunakan untuk membungkus makanan panas, material tersebut akan melepaskan senyawa kimia berbahaya yang disebut dioksin.

Akibatnya, senyawa ini mengendap dan dapat memicu penyakit kanker. Bahkan, menghirup asap dari hasil pembakaran sampah plastik saja sudah sangat tidak bagus untuk kesehatan,” paparnya.

Selain ancaman langsung pada tubuh manusia, Dr. Andriyanto juga menyoroti bahaya jangka panjang plastik terhadap kualitas tanah dan generasi mendatang. Plastik yang tertimbun dan sulit terurai di dalam tanah dapat menghambat penyerapan unsur yodium.

Dioksin ini kalau masuk ke dalam tubuh tidak bisa dicerna dan tidak bisa dibuang.

Kondisi tanah yang kekurangan yodium akan berdampak langsung pada tanaman atau sumber makanan yang tumbuh di atasnya. Jika tanaman minim yodium tersebut dikonsumsi oleh manusia, hal ini akan memicu Gangguan Akibat Kekurangan Yodium.

“Implikasinya sangat panjang. Beberapa tahun kemudian, kondisi ini dapat menyebabkan ibu melahirkan anak dengan tingkat IQ yang relatif lebih rendah. Ini harus menjadi catatan dan perhatian kita bersama,” ungkap ahli kesehatan masyarakat tersebut.

Sebagai solusi dan inovasi dari mahalnya harga plastik, Kepala BRIDA Jatim mendorong masyarakat serta pelaku usaha mikro untuk kembali menggunakan bahan pembungkus alami yang lebih sehat dan ramah lingkungan, seperti daun pisang maupun daun jati.

Ia mengambil contoh pada proses pembuatan tempe. Menurutnya, inovasi tidak selalu berarti menggunakan bahan modern, melainkan kembali pada kearifan lokal yang terbukti aman. Pembuatan tempe yang melalui proses pemanasan dinilai sangat berisiko jika dibungkus menggunakan plastik, terutama bagi kesehatan anak-anak yang mengonsumsinya.

“Oleh karena itu, tempe sebaiknya tetap seperti zaman dahulu, diproses dan dibungkus menggunakan daun pisang atau daun jati. Ini menjadi salah satu hikmah dari mahalnya plastik. Kita justru menyambut baik hal ini karena kita bisa meminimalisir kontaminasi kimia pada makanan dan mencegah berbagai gangguan kesehatan,” tutup Dr. Andriyanto.

Leave a reply