Polisi Ungkap Identitas Dua Kerangka Manusia Terbakar di Gedung ACC Kwitang

Polisi Ungkap Identitas Dua Kerangka Manusia Terbakar di Gedung ACC Kwitang
Jakarta | berita Adikara — Setelah berbulan-bulan menjadi misteri yang menimbulkan kegelisahan publik, teka-teki terkait dua kerangka manusia yang ditemukan di Gedung ACC Kwitang, Jakarta Pusat, akhirnya mulai terungkap. Hasil pemeriksaan DNA yang dilakukan oleh tim forensik RS Polri memastikan bahwa kedua jenazah tersebut adalah Reno Syahputra Dewo dan Muhammad Farhan Hamid, dua pemuda yang sebelumnya dilaporkan hilang sejak akhir Agustus 2025.
Penemuan ini menimbulkan kehebohan besar karena kedua korban diketahui terakhir kali terlihat di sekitar kawasan yang sama, tepat sebelum kebakaran besar melanda gedung tersebut. Polisi pun kini bergerak lebih jauh, menyelidiki penyebab pasti kematian serta kemungkinan adanya pihak yang terlibat dalam tragedi ini.
Kisah ini berawal dari kebakaran hebat yang terjadi di lantai dua Gedung ACC Kwitang pada 29 Agustus 2025. Api berkobar selama berjam-jam dan melahap sebagian besar bangunan tua yang sebelumnya digunakan sebagai area komersial. Setelah api berhasil dipadamkan, petugas pemadam kebakaran sempat mengamankan lokasi, namun tidak ada laporan mengenai korban jiwa saat itu.
Baru pada 30 Oktober 2025, sebulan lebih setelah peristiwa kebakaran, polisi melakukan penyisiran ulang dan menemukan dua kantong jenazah berisi kerangka manusia di area yang hangus terbakar. Penemuan ini langsung memicu penyelidikan intensif, terutama karena pada waktu yang sama ada laporan orang hilang yang belum ditemukan pasca demonstrasi di kawasan sekitar Senen dan Kwitang.
Polisi kemudian mengirimkan sisa kerangka ke Laboratorium Forensik RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan pemeriksaan DNA. Hasilnya, tes genetika menunjukkan kecocokan antara data postmortem kedua kerangka dengan data antemortem yang diberikan oleh keluarga dua pemuda hilang — Reno dan Farhan.
Menurut keterangan Karo Labdokkes Polri Brigjen (K) Sumy Hastry Purwanti, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kedua korban tidak mengalami kekerasan fisik sebelum meninggal dunia. Tulang-tulang yang diperiksa tidak menunjukkan adanya bekas luka akibat benda tumpul, senjata tajam, atau tembakan.
“Dari hasil laboratorium, tidak ada tanda-tanda kekerasan. Kemungkinan terbesar penyebab kematian adalah karena terbakar,” ungkap Brigjen Hastry dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu (1/11).
Namun demikian, polisi tetap berhati-hati dalam menyimpulkan penyebab pasti kematian. Banyak bagian tubuh yang sudah tidak dapat diperiksa karena kondisi yang sangat terbakar. Beberapa fragmen tulang bahkan harus direkonstruksi untuk memastikan identitas korban.
Kabar hilangnya Reno dan Farhan sempat menjadi perhatian publik beberapa bulan lalu. Keduanya dilaporkan menghilang setelah mengikuti kegiatan sosial di sekitar kawasan Kwitang pada akhir Agustus. Sejumlah saksi menyebut bahwa mereka sempat terlihat tak lama sebelum insiden kebakaran terjadi di gedung yang kini menjadi lokasi penemuan kerangka.
Keluarga korban bersama sejumlah lembaga hak asasi manusia seperti KontraS dan YLBHI sempat mendesak kepolisian agar lebih serius mencari keberadaan keduanya. Setelah penemuan kerangka ini, pihak keluarga akhirnya mendapat kepastian meski dengan duka yang mendalam.
“Setidaknya kami sekarang tahu di mana anak kami berada. Tapi kami tetap ingin tahu bagaimana mereka bisa berada di sana dan apa yang sebenarnya terjadi malam itu,” kata salah satu anggota keluarga Reno saat ditemui wartawan.
Kasus ini kini ditangani oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Kabid Humas Kombes Pol. Budi Hermanto menyatakan bahwa penyelidikan masih berlanjut untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang menyebabkan kedua korban tewas di lokasi kebakaran.
Polisi juga telah memanggil sejumlah saksi, termasuk petugas keamanan gedung, warga sekitar, dan rekan korban. Semua data akan dikumpulkan untuk memastikan apakah korban benar-benar terjebak dalam kebakaran atau ada unsur lain yang menyebabkan mereka berada di gedung tersebut.
“Kami akan menyelidiki secara transparan dan memastikan tidak ada spekulasi yang menyesatkan publik,” ujar Kombes Budi.
Selain itu, pihak kepolisian juga berjanji akan memberikan pendampingan kepada keluarga korban, termasuk proses pemakaman dan penyerahan jenazah setelah semua prosedur selesai dilakukan.
Meski polisi telah mengungkap identitas korban, berbagai kalangan masih mendesak agar penyelidikan tidak berhenti di tahap forensik. Organisasi masyarakat sipil meminta agar aparat mengusut secara tuntas seluruh kemungkinan yang menyebabkan dua pemuda itu kehilangan nyawa, termasuk memeriksa apakah ada unsur kelalaian atau pelanggaran hak asasi manusia.
Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya akuntabilitas negara dalam menangani kasus orang hilang dan keselamatan warga sipil. Banyak pihak mengingatkan bahwa setiap nyawa harus dilindungi, dan tidak boleh ada korban yang hilang tanpa kejelasan.
Kini, Gedung ACC Kwitang tak lagi hanya menjadi saksi bisu kebakaran besar, tetapi juga tempat di mana dua jiwa muda berakhir dengan tragis. Reno dan Farhan telah ditemukan, namun misteri di balik kepergian mereka masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab.
Bagi keluarga dan publik, kebenaran adalah bentuk penghormatan terakhir bagi kedua korban. Polisi diharapkan dapat menuntaskan penyelidikan ini hingga tuntas, tidak hanya untuk menjawab rasa penasaran publik, tetapi juga untuk memastikan bahwa tragedi serupa tidak akan terulang lagi.










