Tragedi Teror Bom di Sekolah : 54 Korban Luka Usai Ledakan Guncang SMA 72 Jakarta

0
76
https://beritaadikara.com/tragedi-teror-bom-di-sekolah-54-korban-luka-usai-ledakan-guncang-sma-72-jakarta/

Jakarta | Berita Adikara — Suasana Jumat siang yang semula tenang di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, berubah menjadi kepanikan luar biasa. Sekitar pukul 12.15 WIB, ledakan keras mengguncang area masjid di kompleks SMA Negeri 72 Jakarta, ketika ratusan siswa dan guru tengah menunaikan salat Jumat. Dalam hitungan detik, teriakan panik, kepulan asap, dan kaca pecah menggantikan ketenangan ibadah.

Menurut keterangan resmi Polda Metro Jaya, sedikitnya 54 orang mengalami luka-luka, dengan tingkat keparahan bervariasi dari ringan hingga sedang. Korban sebagian besar merupakan siswa dan guru yang tengah berada di lokasi kejadian. Beberapa mengalami luka bakar dan gangguan pendengaran akibat gelombang kejut dari ledakan, sementara lainnya terluka oleh pecahan kaca dan serpihan bangunan masjid.

Saksi mata yang merupakan siswa kelas XI menceritakan bahwa suasana saat itu berlangsung khusyuk. Setelah khatib selesai menyampaikan khutbah, para jamaah bersiap menunaikan rakaat terakhir salat Jumat. Namun, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras, diikuti ledakan kedua yang lebih besar beberapa detik kemudian.

“Semua orang langsung berteriak dan berhamburan keluar. Saya lihat banyak teman berdarah di bagian kepala dan tangan,” ujar Sela, salah satu siswa yang berada di selasar masjid saat kejadian.

Ledakan tersebut cukup kuat hingga terdengar hingga radius ratusan meter dari lokasi. Warga sekitar berhamburan keluar rumah dan turut membantu proses evakuasi. Tak lama kemudian, aparat kepolisian, tim Gegana Brimob, dan petugas Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta tiba di lokasi untuk mensterilkan area.

Proses evakuasi dilakukan secara cepat dengan bantuan warga dan tenaga medis dari RS Islam Cempaka Putih serta RS Yarsi. Dari total korban yang dilarikan ke rumah sakit, beberapa telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan intensif. Namun, puluhan lainnya masih dirawat karena luka bakar dan trauma pendengaran akibat tekanan suara yang tinggi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan menyatakan bahwa seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung negara. “Kami berkomitmen untuk memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan terbaik. Ini tragedi kemanusiaan yang tidak boleh terulang,” ujar Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Penelusuran awal oleh Densus 88 Antiteror Polri menemukan indikasi bahwa ledakan disebabkan oleh bom rakitan sederhana. Barang bukti berupa serpihan logam, sisa kabel, dan bahan kimia ditemukan di sekitar lokasi kejadian. Lebih mengejutkan lagi, pihak kepolisian menduga bahwa bom tersebut dibawa oleh seorang siswa kelas XII di sekolah tersebut.

Berdasarkan informasi dari teman-temannya, siswa ini dikenal pendiam dan tertutup. Beberapa menyebut bahwa pelaku kerap mengalami perundungan (bullying) dan menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis. “Ia sering diejek oleh teman-teman dan jarang berinteraksi di luar kelas,” ungkap salah satu teman sekelas yang enggan disebutkan namanya.

Motif utama masih dalam tahap pendalaman, namun dugaan sementara mengarah pada aksi balas dendam dan keinginan untuk melukai diri sendiri. Polisi kini tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap keluarga pelaku, riwayat perilakunya di sekolah, serta aktivitas media sosial yang mungkin mengandung tanda-tanda ekstremisme atau gangguan mental.

Hingga kini, lokasi sekolah masih ditutup total untuk proses olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim Labfor Mabes Polri telah mengambil sejumlah sampel material dari lokasi untuk memastikan jenis bahan peledak yang digunakan.

Kapolri menegaskan bahwa penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh dan transparan. “Kami tidak ingin berspekulasi sebelum seluruh bukti dikonfirmasi secara ilmiah. Apakah ini murni insiden personal, aksi terencana, atau ada pihak lain yang memprovokasi, semua akan kami ungkap,” tegasnya.

Tragedi ini memunculkan gelombang keprihatinan dari berbagai kalangan. Media sosial dibanjiri ungkapan belasungkawa dan doa bagi para korban. Banyak pihak menyoroti rendahnya pengawasan terhadap siswa serta kurangnya deteksi dini terhadap kesehatan mental di lingkungan pendidikan.

Psikolog pendidikan menilai, kasus ini menjadi alarm keras bahwa isu kesehatan mental di kalangan pelajar perlu mendapat perhatian serius. “Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tapi juga ruang tumbuh bagi karakter dan kesejahteraan psikologis anak,” ujar Dr. Anindya Putri, pakar psikologi pendidikan Universitas Indonesia.

Selain itu, sejumlah lembaga pendidikan mulai menyerukan perlunya protokol keamanan baru di sekolah, termasuk pemeriksaan barang bawaan dan pelatihan mitigasi bencana atau insiden kekerasan.

Tragedi ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta meninggalkan luka yang dalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi dunia pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi siswa, justru berubah menjadi saksi bisu ketegangan dan penderitaan.

Pemerintah, aparat penegak hukum, dan lembaga pendidikan kini dihadapkan pada tanggung jawab moral besar: memastikan peristiwa semacam ini tidak terulang. Melalui kolaborasi semua pihak—orang tua, guru, psikolog, dan penegak hukum—diharapkan sistem pengawasan dan pendampingan siswa dapat diperkuat.

Ledakan itu mungkin telah padam, namun gema pesannya harus terus bergema: tidak ada pendidikan tanpa rasa aman, dan tidak ada keamanan tanpa kepedulian terhadap sesama.

Leave a reply