Antisipasi Pembatasan BPJS Kesehatan, Dr. Benjamin Kristianto MARS Imbau Masyarakat Utamakan Pencegahan Penyakit Ginjal

0
95

SURABAYA | BERITA ADIKARA – Tingginya biaya cuci darah atau hemodialisis bagi penderita gagal ginjal menjadi perhatian serius di dunia medis. Terkait hal ini, pakar kesehatan Dr. Benjamin Kristianto, MARS, mengimbau masyarakat untuk secara proaktif melakukan langkah-langkah preventif menjaga kesehatan ginjal, guna mengantisipasi potensi pembatasan layanan kesehatan di masa mendatang.

Dr. Benjamin menyampaikan apresiasinya karena hingga saat ini BPJS Kesehatan masih menanggung biaya tindakan hemodialisis yang tidak murah. Namun, ia menyuarakan kekhawatiran terkait lonjakan kasus penyakit ginjal yang terus meningkat setiap tahunnya.

“Kita bersyukur BPJS masih menanggung hemodialisis. Namun, dengan kasus yang makin banyak, jangan sampai nanti akhirnya ada pembatasan-pembatasan layanan. Mengingat sistem yang ada saat ini masih cenderung fokus pada tindakan kuratif (pengobatan), kita sebagai masyarakat harus mengantisipasinya dengan tindakan preventif,” ujar Dr. Benjamin.

Dalam penjelasannya, Dr. Benjamin mengilustrasikan ginjal sebagai mesin penyaring (filter) darah di dalam tubuh. Kotoran dari darah tersebut kemudian dibuang melalui urine. Kerusakan pada ‘filter’ ini umumnya terjadi apabila darah yang disaring terlalu kotor akibat pola makan dan gaya hidup yang salah.

“Darah kotor itu bisa disebabkan oleh berbagai masalah metabolisme, seperti kencing manis (diabetes), kolesterol tinggi, hingga asam urat. Seiring dengan membaiknya perekonomian, pola makan dan gaya hidup masyarakat turut berubah, yang sayangnya justru membuat kerja ginjal semakin berat,” jelasnya.

Pentingnya Aturan Minum Air Putih dan Menghindari Obat Berlebih

Untuk mencegah kerusakan ginjal, Dr. Benjamin membagikan dua langkah utama yang harus diterapkan masyarakat:

1. Tata Cara Hidrasi yang Tepat

Dibutuhkan air yang cukup untuk ‘menyiram’ dan melarutkan kotoran di dalam ginjal. Kebutuhan air minimal adalah 2 liter per hari, atau setara dengan 10 gelas ukuran 200 ml. Namun, Dr. Benjamin meluruskan miskonsepsi yang kerap terjadi di masyarakat mengenai cara minum.

“Seringkali masyarakat minum dua botol sekaligus di pagi hari, lalu siang dan malamnya tidak minum. Itu adalah cara yang salah,” tegasnya. “Ibarat menyiram tanaman, pemberian air harus dilakukan sepanjang waktu. Misalnya, dua gelas di pagi hari, dua gelas siang, dua gelas sore, dua gelas saat maghrib, dan dua gelas sebelum tidur. Sirkulasinya harus dijaga dalam 24 jam.”

2. Hindari Penggunaan Obat Sembarangan dan Gaya Hidup Merusak

Selain menjaga asupan cairan dan mengontrol penyakit metabolik, masyarakat dilarang keras mengonsumsi obat-obatan secara berlebihan dan tanpa pengawasan medis. Dr. Benjamin mengingatkan bahwa ginjal dan organ hati adalah pihak pertama yang akan terdampak jika terjadi keracunan obat di dalam tubuh.

“Jangan tumpuk ginjal Anda dengan obat-obatan keras secara sembarangan, seperti obat antinyeri yang dikonsumsi terus-menerus. Jauhi juga narkoba, kurangi kebiasaan merokok, serta hindari minuman keras. Hal-hal inilah yang dalam jangka panjang akan merusak pola kesehatan dan menghancurkan fungsi ginjal,” pungkasnya.

Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat dapat mengubah pola hidup mereka menjadi lebih sehat, sehingga tidak perlu bergantung sepenuhnya pada jaminan pengobatan kuratif dan terhindar dari meja cuci darah.

Leave a reply