Ribuan Mahasiswa Lakukan Demo di Grahadi Surabaya, Suarakan Berbagai Tuntutan Untuk pemerintah

Ribuan Mahasiswa Lakukan Demo di Grahadi Surabaya, Suarakan Berbagai Tuntutan Untuk pemerintah
SURABAYA | BERITA ADIKARA — Gelombang demonstrasi mahasiswa kembali menggema di Kota Pahlawan. Pada Rabu, 17 Juni 2026, ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur turun ke jalan dan memusatkan aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Aksi yang digelar oleh berbagai elemen mahasiswa, termasuk kelompok yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Timur, menjadi salah satu demonstrasi terbesar yang berlangsung di Jawa Timur sepanjang pertengahan tahun 2026.
Sejak siang hari, massa mahasiswa mulai berdatangan dari berbagai kampus dengan mengenakan jaket almamater masing-masing. Mereka bergerak menuju Grahadi secara bergelombang sambil membawa spanduk, poster, dan berbagai atribut aksi yang berisi kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Sesampainya di lokasi, ribuan mahasiswa membentuk barisan panjang di depan kompleks Grahadi dan secara bergantian menyampaikan orasi melalui mobil komando yang telah disiapkan.
Aksi tersebut berlangsung di bawah pengamanan ketat aparat keamanan. Sebanyak 1.249 personel gabungan dari kepolisian dan unsur terkait dikerahkan untuk mengawal jalannya demonstrasi. Kehadiran aparat dalam jumlah besar dilakukan untuk memastikan aksi berlangsung aman, tertib, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat di pusat Kota Surabaya.
Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian, mahasiswa menyoroti berbagai persoalan nasional yang dianggap semakin membebani masyarakat. Salah satu isu utama yang diangkat adalah penggunaan anggaran negara yang dinilai belum sepenuhnya efektif dan tepat sasaran. Massa aksi menyuarakan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta mendesak pemerintah untuk melakukan reformasi tata kelola pemerintahan secara menyeluruh.
Menurut para mahasiswa, kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan membutuhkan kebijakan yang lebih berpihak kepada kepentingan rakyat. Mereka menilai setiap rupiah yang berasal dari anggaran negara harus dikelola secara transparan, efisien, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, mahasiswa mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai program yang dianggap kurang efektif dalam menjawab kebutuhan publik.
Selain isu ekonomi, demonstrasi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi terkait kualitas demokrasi dan tata kelola pemerintahan. Dalam sejumlah orasi, massa menekankan pentingnya menjaga ruang partisipasi publik dalam proses pengambilan kebijakan. Mereka mengingatkan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan salah satu fondasi utama dalam sistem demokrasi yang sehat.
Suasana aksi berlangsung dinamis sepanjang siang hingga sore hari. Sesekali terdengar yel-yel perjuangan yang disambut serempak oleh ribuan peserta aksi. Spanduk bertuliskan tuntutan reformasi kebijakan dan penguatan akuntabilitas pemerintahan tampak menghiasi area depan Grahadi. Beberapa mahasiswa juga membacakan pernyataan sikap yang berisi kritik terhadap berbagai kebijakan yang dinilai belum mampu menjawab persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.
Meski diwarnai kritik keras terhadap pemerintah, aksi berlangsung relatif tertib. Aparat keamanan dan koordinator lapangan mahasiswa terus berkoordinasi untuk menjaga situasi tetap kondusif. Tidak terlihat adanya bentrokan maupun tindakan anarkis selama demonstrasi berlangsung. Massa memilih menyampaikan aspirasi melalui orasi, pembacaan tuntutan, dan berbagai aksi simbolik yang menggambarkan keresahan mereka terhadap kondisi nasional saat ini.
Kehadiran ribuan mahasiswa di depan Grahadi menunjukkan bahwa kalangan akademisi muda masih memainkan peran penting sebagai pengawal kebijakan publik. Melalui aksi tersebut, mereka berupaya mengingatkan pemerintah agar lebih memperhatikan suara masyarakat dalam merumuskan kebijakan negara. Mahasiswa menegaskan bahwa demonstrasi bukan semata bentuk penolakan, melainkan bagian dari partisipasi warga negara dalam kehidupan demokrasi.
Aksi di Grahadi juga menjadi simbol konsolidasi gerakan mahasiswa di Jawa Timur. Berbagai organisasi mahasiswa yang berasal dari kampus berbeda mampu menyatukan suara dalam menyampaikan tuntutan bersama. Solidaritas tersebut terlihat dari koordinasi yang terbangun selama aksi, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan demonstrasi di lapangan.
Menjelang petang, demonstrasi berangsur-angsur berakhir setelah seluruh agenda penyampaian aspirasi selesai dilaksanakan. Massa kemudian membubarkan diri secara tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Arus lalu lintas yang sebelumnya mengalami kepadatan di sekitar kawasan Grahadi perlahan kembali normal.
Demonstrasi mahasiswa di depan Gedung Negara Grahadi pada 17 Juni 2026 menjadi salah satu peristiwa penting dalam dinamika sosial-politik Jawa Timur tahun ini. Selain mencerminkan tingginya kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu nasional, aksi tersebut juga menunjukkan bahwa ruang demokrasi masih menjadi sarana utama bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan aspirasi kepada pemerintah. Melalui aksi damai tersebut, mahasiswa berharap pemerintah dapat lebih responsif terhadap berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat serta meningkatkan kualitas tata kelola negara demi terciptanya pemerintahan yang lebih transparan, akuntabel, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.










