Aksi Besar GSJT di Surabaya: 1.500 Sopir Truk Protes Kuota Solar dan Pemblokiran Barcode

Aksi Besar GSJT di Surabaya: 1.500 Sopir Truk Protes Kuota Solar dan Pemblokiran Barcode
SURABAYA, 29 April 2026 – Sebanyak kurang lebih 1.500 sopir truk yang tergabung dalam Gerakan Sopir Truk Jawa Timur (GSJT) menggelar aksi massa besar-besaran di dua titik vital distribusi energi di Surabaya pada Rabu (29/4). Aksi ini merupakan puncak kegelisahan para pelaku sektor logistik terhadap karut-marut distribusi BBM bersubsidi yang dinilai mencekik operasional angkutan barang.
Massa aksi mulai memadati kawasan Bundaran Waru sejak pagi hari sebelum bergerak menuju pusat kota. Rombongan pertama tiba di depan Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Jalan Jagir Wonokromo, pada pukul 14.21 WIB, disusul rombongan kedua pada pukul 14.50 WIB. Selain di Jagir, konsentrasi massa juga terjadi di Depo Pertamina Perak Barat.
Koordinator GSJT Jawa Timur, Supriyono, menegaskan bahwa sistem MyPertamina yang diterapkan saat ini justru menjadi penghambat utama kelancaran distribusi logistik nasional. Masalah ini sejatinya telah disuarakan sejak tahun 2024, namun hingga kini belum ada solusi konkret dari pihak otoritas.
“Banyak kendaraan kawan-kawan yang tiba-tiba terblokir secara sepihak sehingga tidak bisa membeli solar subsidi. Padahal, kami ini bekerja untuk mengantar kebutuhan pokok masyarakat. Jika armada berhenti, ekonomi juga ikut berhenti,” tegas Supriyono di sela-sela aksi.
GSJT menyoroti ketimpangan antara kuota yang diberikan dengan kebutuhan riil di lapangan. Saat ini, satu kendaraan hanya dijatah sekitar 200 liter per hari, sementara untuk perjalanan jarak jauh (intercity) atau antarpulau, kebutuhan minimal mencapai 300 hingga 400 liter.
“Jika kami kirim barang dari Banyuwangi ke Jakarta, kuota itu tidak akan cukup. Akibatnya, sopir harus berhenti dan menunggu hari berikutnya hanya untuk mengisi BBM. Ini sangat menyulitkan dan merugikan efisiensi waktu kami,” tambah Supriyono.

Para sopir juga mengeluhkan stigma negatif yang seolah memosisikan mereka sebagai bagian dari mafia BBM. GSJT menuntut agar Pertamina dan aparat penegak hukum fokus memberantas mafia BBM yang sebenarnya, alih-alih mempersulit sopir kecil dengan sistem birokrasi barcode yang tidak andal.
Selain itu, proses pembukaan blokir barcode yang diklaim hanya memakan waktu 2–3 jam dalam aplikasi, faktanya di lapangan memakan waktu berhari-hari hingga berbulan-bulan tanpa kejelasan.
5 Tuntutan Utama Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT):
- Hapus sistem barcode dalam pembelian BBM bersubsidi yang dinilai gagal dan menghambat operasional.
- Stop kriminalisasi sopir terkait penggunaan BBM subsidi.
- Hentikan praktik pungli oleh operator SPBU serta penyalahgunaan barcode oleh oknum tidak bertanggung jawab.
- Turunkan tarif tol khusus angkutan barang untuk menekan biaya logistik yang kian membengkak.
- Tangkap mafia BBM bersubsidi yang sebenarnya, bukan menjadikan sopir truk sebagai sasaran kebijakan yang diskriminatif.
GSJT menyatakan akan terus mengawal tuntutan ini hingga ada kebijakan tertulis yang menjamin kemudahan akses solar subsidi bagi angkutan logistik. Aksi ini juga menjadi peringatan bagi pemerintah bahwa kestabilan ekonomi nasional sangat bergantung pada kesejahteraan dan kelancaran kerja para sopir truk di jalanan.










