Mendagri Dorong Percepatan Pendataan Sekolah dan Rumah Ibadah Terdampak Gempa NTT

0
8
Mendagri Dorong Percepatan Pendataan Sekolah dan Rumah Ibadah Terdampak Gempa NTT

NTT | BERITA ADIKARA  Pemerintah terus mempercepat penanganan dampak gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta pemerintah daerah segera melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap sekolah dan rumah ibadah yang mengalami kerusakan. Langkah tersebut dinilai penting agar pemerintah dapat menentukan kebutuhan penanganan sekaligus mempercepat penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Desakan tersebut disampaikan Tito setelah melakukan peninjauan langsung ke wilayah terdampak gempa di Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, pada Senin (17/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Mendagri melihat kondisi salah satu masjid yang mengalami kerusakan hingga roboh. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena rumah ibadah merupakan salah satu fasilitas penting yang dibutuhkan masyarakat, terutama dalam menjalankan aktivitas keagamaan dan kehidupan sosial sehari-hari.

Tito meminta pemerintah daerah tidak hanya mencatat jumlah bangunan yang terdampak, tetapi juga mengelompokkan tingkat kerusakannya secara jelas. Pendataan diharapkan mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA). Tingkat kerusakan juga perlu diklasifikasikan menjadi ringan, sedang, dan berat sehingga kementerian terkait dapat menentukan langkah penanganan yang sesuai.

Menurut Tito, kecepatan penanganan bencana sangat bergantung pada tersedianya data yang akurat. Semakin cepat pemerintah daerah menyelesaikan pendataan, semakin cepat pula pemerintah pusat dapat mengambil keputusan mengenai bentuk bantuan dan rehabilitasi yang diperlukan. Karena itu, perangkat pemerintahan dari tingkat desa hingga kecamatan diharapkan ikut bergerak agar proses pencatatan kerusakan tidak mengalami keterlambatan.

Dalam kunjungannya, Tito juga menyoroti pentingnya memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung meskipun sebagian bangunan sekolah mengalami kerusakan. Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), memiliki sejumlah perlengkapan yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan belajar sementara, termasuk tenda dan fasilitas pendukung lainnya. Dengan demikian, siswa di daerah terdampak tetap memiliki kesempatan untuk mengikuti pembelajaran sambil menunggu proses rehabilitasi atau pembangunan kembali sekolah.

Tito turut memberikan gambaran mengenai penanganan fasilitas pendidikan setelah bencana sebelumnya. Ia menyebut sebanyak 4.922 sekolah terdampak kerusakan akibat bencana tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera. Menurutnya, sebagian besar proses rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah tersebut telah berjalan. Pengalaman itu menjadi salah satu contoh bahwa pemulihan fasilitas pendidikan dapat dilakukan secara bertahap apabila pemerintah memiliki data kerusakan yang jelas dan proses penanganan yang terkoordinasi.

Selain meninjau fasilitas umum, Mendagri menyempatkan diri berinteraksi dengan masyarakat yang berada di posko pengungsian. Ia juga mengunjungi SMP Abdurrahman Wahid di Kecamatan Lamba Leda Utara yang mengalami kerusakan cukup parah. Dalam kesempatan tersebut, Tito menyerahkan santunan pribadi kepada pihak sekolah sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan dunia pendidikan yang terdampak bencana.

Percepatan pendataan sekolah dan rumah ibadah menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Selain pendidikan, keberadaan rumah ibadah juga memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memulihkan kehidupan sosial dan spiritual setelah menghadapi bencana.

Pemerintah berharap proses pendataan dapat segera diselesaikan dengan akurat sehingga langkah rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dilakukan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Penanganan yang cepat dan terkoordinasi diharapkan mampu membantu masyarakat NTT bangkit dari dampak gempa sekaligus memulihkan kembali berbagai layanan dasar yang sempat terganggu.