Waka MPR Dorong Pengembangan Energi Terbarukan Berbasis Ekonomi Hijau

Waka MPR Dorong Pengembangan Energi Terbarukan Berbasis Ekonomi Hijau

SEMARANG | BERITA ADIKARA – Pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia tidak boleh hanya berfokus pada upaya mengurangi emisi karbon. Lebih dari itu, transisi energi harus mampu menciptakan manfaat nyata bagi pertumbuhan industri nasional, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di tingkat global. Pesan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, saat menghadiri audiensi bertajuk Central Java Green Industry Initiative di Semarang, Jawa Tengah.
Dalam pertemuan yang melibatkan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Tengah serta sejumlah pelaku industri tersebut, Eddy menegaskan bahwa transisi energi tidak boleh dimaknai hanya sebagai agenda lingkungan. Menurutnya, perubahan menuju energi bersih harus menjadi strategi pembangunan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat industrialisasi nasional.
Ia menilai Jawa Tengah memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi pusat pengembangan industri hijau di Indonesia. Selain didukung oleh arus investasi yang terus meningkat, provinsi tersebut juga memiliki potensi energi terbarukan yang mencapai lebih dari 200 gigawatt. Di sisi lain, keberadaan kawasan industri yang terus berkembang menjadi nilai tambah yang dapat mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau.
Data investasi di Jawa Tengah menunjukkan tren yang cukup menjanjikan. Pada 2025, realisasi investasi di provinsi tersebut mencapai sekitar Rp110 triliun. Nilai tersebut berasal dari lebih dari 105 ribu proyek yang berhasil menyerap lebih dari 418 ribu tenaga kerja. Capaian tersebut menjadi indikator bahwa Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu pusat industri baru di Indonesia.
Selain itu, Jawa Tengah telah memiliki tujuh kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus. Bahkan, terdapat 12 kawasan industri lainnya yang masih dalam tahap persiapan. Menurut Eddy, kombinasi antara investasi, infrastruktur, sumber daya manusia, serta potensi energi terbarukan dapat menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem industri hijau yang kompetitif.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah persoalan kepastian hukum dan regulasi yang sering menjadi perhatian para investor. Eddy menilai bahwa dunia usaha membutuhkan kebijakan yang konsisten, proses perizinan yang lebih sederhana, serta berbagai insentif yang mampu mengurangi biaya pengembangan teknologi ramah lingkungan.
Menurutnya, transisi energi juga harus diiringi dengan penguatan rantai pasok domestik. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk teknologi hijau dari luar negeri. Sebaliknya, industri nasional harus mampu menjadi pelaku utama dalam proses produksi, pengolahan, hingga pengembangan teknologi energi bersih.
Pengembangan energi terbarukan diperkirakan akan menciptakan berbagai jenis pekerjaan baru atau green jobs. Peluang tersebut mencakup berbagai profesi, mulai dari insinyur, teknisi, peneliti, ahli baterai, pekerja manufaktur panel surya, hingga operator sistem penyimpanan energi. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang sangat penting dalam menghadapi transformasi sektor energi.
Eddy juga menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan berupa sumber daya mineral strategis seperti nikel dan tembaga yang sangat dibutuhkan dalam industri kendaraan listrik dan teknologi penyimpanan energi. Jika potensi tersebut dapat dikelola secara optimal, Indonesia berpeluang menjadi produsen sekaligus eksportir teknologi rendah karbon di masa depan.
Pada akhirnya, keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari penurunan emisi karbon. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut harus mampu menciptakan industri yang lebih kuat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta membuka lapangan kerja yang lebih luas. Dengan demikian, energi terbarukan tidak lagi dipandang sebagai beban pembangunan, melainkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru yang dapat mendorong Indonesia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.









