Demo Mahasiswa UINSA Surabaya Memanas, Massa Desak Rektor Akhmad Muzakki Mundur

0
8
Demo Mahasiswa UINSA Surabaya Memanas, Massa Desak Rektor Akhmad Muzakki Mundur

SURABAYA | BERITA ADIKARA – Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kembali menggelar aksi demonstrasi di lingkungan kampus pada Rabu hingga Kamis, 16–17 September 2026. Aksi tersebut menyoroti kepemimpinan Rektor UINSA Akhmad Muzakki yang baru kembali menjabat untuk periode 2026–2030.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Demonstrasi berlangsung di kawasan Gedung Rektorat UINSA, Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Mahasiswa dari sejumlah fakultas datang membawa spanduk dan poster berisi tuntutan serta melakukan orasi secara bergantian. Salah satu tuntutan utama massa adalah meminta Akhmad Muzakki mundur dari jabatan rektor.

Penolakan tersebut muncul setelah Akhmad Muzakki kembali ditetapkan sebagai Rektor UINSA untuk periode kedua. Dalam aksi, mahasiswa menyampaikan sejumlah persoalan yang menurut mereka perlu mendapat penjelasan dan evaluasi dari pimpinan universitas.

Salah satu tuntutan mahasiswa berkaitan dengan kepemimpinan kampus. Mereka meminta adanya pergantian rektor dan mendesak agar Muzakki memberikan pertanggungjawaban atas berbagai kebijakan yang diterapkan selama masa kepemimpinannya. Mahasiswa juga meminta audit terhadap laporan pertanggungjawaban Muzakki selama menjabat sebagai rektor.

Selain persoalan kepemimpinan, massa aksi menyoroti sejumlah isu internal kampus. Di antaranya berkaitan dengan fasilitas mahasiswa, kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT), layanan mahasiswa baru, serta mekanisme peminjaman fasilitas kampus.

Mahasiswa juga mempersoalkan keterlambatan pembagian sejumlah kebutuhan mahasiswa baru, seperti buku, Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), dan almamater. Mereka meminta pihak kampus memberikan penjelasan sekaligus tenggat waktu penyelesaian persoalan tersebut.

Persoalan daya tampung dan fasilitas juga menjadi perhatian. Massa meminta pertanggungjawaban terkait jumlah penerimaan mahasiswa baru yang dinilai berdampak pada keterbatasan fasilitas kampus. Selain itu, mahasiswa menyuarakan penolakan terhadap kebijakan jam malam yang mereka nilai tidak sesuai dengan kebutuhan kegiatan nonakademik mahasiswa.

Tuntutan lain menyasar kebijakan UKT. Mahasiswa meminta evaluasi terhadap mekanisme penentuan UKT mahasiswa baru yang menurut mereka perlu lebih mempertimbangkan kondisi ekonomi mahasiswa.

Aksi pada Rabu, 16 September, sempat berlangsung tegang. Massa membakar sejumlah karangan bunga ucapan selamat atas pelantikan rektor. Mahasiswa kemudian mendesak masuk ke gedung rektorat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.

Mahasiswa berharap Akhmad Muzakki hadir menemui mereka. Namun, pihak kampus menyampaikan bahwa rektor sedang menjalankan tugas di luar kampus dan mendampingi pimpinan Kementerian Agama yang datang dari Jakarta. Hingga laporan tersebut diterbitkan, Muzakki belum menemui massa aksi secara langsung.

Karena tidak mendapatkan pertemuan langsung dengan rektor, mahasiswa kemudian menyegel sejumlah akses Gedung Rektorat UINSA. Suara Surabaya melaporkan bahwa pintu bagian barat dan utara gedung rektorat disegel oleh mahasiswa. Pihak kampus menyatakan masih memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi selama aksi berlangsung tanpa tindakan anarkistis.

Aksi berlanjut pada Kamis, 17 September 2026. Berdasarkan laporan detikJatim, ratusan mahasiswa kembali berkumpul di depan Gedung Rektorat. Sejumlah titik di area kampus digunakan untuk membakar ban, sementara mahasiswa bergantian menyampaikan orasi.

Pada saat bersamaan, aparat TNI dan Polri bersama petugas keamanan kampus terlihat berjaga di sekitar lokasi. Gerbang kampus juga sempat ditutup dan dirantai untuk mengendalikan akses keluar-masuk kawasan kampus.

Dalam tuntutannya, mahasiswa juga menyinggung persoalan yang mereka kaitkan dengan Rektor UINSA di lingkungan Kopertais Wilayah IV. Mereka mendesak agar perkara tersebut diusut. Penting dicatat, tudingan tersebut merupakan bagian dari tuntutan mahasiswa dan pemberitaan mengenai dugaan perkara tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran hukum oleh pihak yang disebut.

Selain tuntutan terkait rektor, mahasiswa meminta pimpinan UINSA memberikan pernyataan mengenai keterbukaan informasi publik serta meminta evaluasi terhadap berbagai kebijakan kampus. Mereka juga meminta adanya perbaikan dalam pelayanan akademik dan administrasi mahasiswa.

Penolakan terhadap kepemimpinan Muzakki tidak hanya datang dari mahasiswa. ANTARA melaporkan bahwa sebelumnya sejumlah dosen dan guru besar UINSA juga menyampaikan keberatan. Juru bicara Forum Guru Besar UINSA, Prof. Ghazali Said, menyebut persoalan tata kelola kampus sebagai salah satu alasan penolakan. Sementara itu, Ikatan Alumni UINSA juga meminta adanya evaluasi terhadap keputusan pengangkatan Muzakki.

Di sisi lain, pihak UINSA menyatakan aspirasi mahasiswa akan disampaikan kepada pimpinan kampus. Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama UINSA, Aslamiyah, mengatakan staf administrasi tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan terkait tuntutan mahasiswa. Menurutnya, tindak lanjut atas aspirasi tersebut berada di tangan pimpinan universitas.

Rangkaian demonstrasi tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara sebagian mahasiswa dengan pihak kampus mengenai kepemimpinan dan sejumlah kebijakan internal UINSA. Massa mahasiswa masih meminta adanya respons langsung dari rektor, sementara pihak kampus menyatakan aspirasi yang disampaikan akan diteruskan kepada pimpinan.

Dengan aksi yang berlanjut hingga hari kedua, penyelesaian persoalan tersebut masih bergantung pada komunikasi antara mahasiswa dan jajaran pimpinan UINSA. Dialog terbuka menjadi salah satu jalur yang dapat digunakan untuk memperjelas tuntutan mahasiswa sekaligus memberikan ruang bagi pihak kampus untuk menyampaikan tanggapan atas berbagai persoalan yang dipersoalkan dalam demonstrasi.