HUT ke-81 PMI Jatim, Relawan Diperkuat Hadapi Ancaman Bencana dan Musim Kemarau

0
6
HUT ke-81 PMI Jatim, Relawan Diperkuat Hadapi Ancaman Bencana dan Musim Kemarau

GRESIK | BERITA ADIKARA – Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur memperkuat kesiapsiagaan jajaran relawan untuk menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di wilayah Jawa Timur. Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 PMI yang digelar di Lapangan Pusdiklat PMI, Gresik, Kamis (17/9/2026), sekaligus menjadi pengingat pentingnya kecepatan dan koordinasi dalam memberikan bantuan kepada masyarakat.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Peringatan HUT ke-81 PMI tersebut dihadiri Ketua PMI Jawa Timur Imam Utomo bersama jajaran pengurus PMI kabupaten dan kota se-Jawa Timur. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani juga hadir dalam kegiatan tersebut bersama sejumlah unsur pemerintah daerah dan lintas sektoral.

Mengusung semangat “Peduli, Bergerak Bersama”, peringatan tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial organisasi. PMI Jatim memanfaatkannya untuk kembali mengingatkan pentingnya kesiapan personel, posko, logistik, serta pola koordinasi ketika terjadi kondisi darurat.

Ketua PMI Jawa Timur Imam Utomo meminta seluruh PMI kabupaten dan kota memastikan relawan berada dalam kondisi siap sewaktu-waktu dibutuhkan. Menurutnya, keberadaan personel yang siap dikerahkan menjadi salah satu unsur penting dalam mempercepat respons ketika bencana terjadi.

Imam juga menekankan bahwa koordinasi tidak dapat dilakukan PMI seorang diri. Dalam menghadapi situasi darurat, PMI perlu bergerak bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.

Kesiapan tersebut menjadi semakin penting karena ancaman bencana di Jawa Timur tidak hanya berkaitan dengan satu jenis kejadian. Kekeringan selama musim kemarau, kebakaran, banjir akibat perubahan cuaca, hingga potensi bencana geologi membutuhkan pola penanganan yang berbeda dan kesiapan personel di lapangan.

Dalam kondisi bencana yang menyebabkan masyarakat harus meninggalkan tempat tinggalnya, Imam meminta relawan memberikan perhatian terhadap kebutuhan dasar penyintas. Dapur umum, evakuasi, distribusi bantuan, dan layanan kemanusiaan menjadi sejumlah tugas yang perlu segera dilakukan ketika terjadi pengungsian.

PMI Jatim juga mendorong agar posko di tingkat kabupaten dan kota tetap dalam kondisi siap. Dengan kesiapan tersebut, informasi mengenai kejadian di lapangan dapat diterima lebih cepat dan diteruskan kepada unsur terkait untuk menentukan langkah penanganan.

Imam turut mengingatkan jajaran PMI agar mengikuti perkembangan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi tersebut dapat menjadi salah satu dasar bagi relawan dalam mengantisipasi perubahan kondisi di lapangan, termasuk potensi cuaca ekstrem dan ancaman bencana lainnya.

Peringatan HUT PMI ke-81 di Gresik berlangsung ketika pemerintah daerah juga meningkatkan perhatian terhadap dampak musim kemarau. Sejumlah wilayah di Kabupaten Gresik mulai membutuhkan penanganan terkait ketersediaan air bersih.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan pemerintah daerah terus memantau laporan masyarakat mengenai wilayah yang mulai mengalami kekeringan. Warga dapat menyampaikan informasi melalui kanal pengaduan pemerintah, termasuk Gresik AKAS 112 dan WhatsApp Lapor Gus.

Kecamatan Benjeng dan Balongpanggang disebut menjadi sejumlah wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan kebutuhan air bersih. Di beberapa wilayah lainnya, kebutuhan air mulai terbantu dengan jaringan perpipaan yang tersedia.

Pemkab Gresik juga menyiapkan distribusi air bersih melalui kolaborasi berbagai pihak. BPBD, PMI, Baznas, serta unsur masyarakat turut dilibatkan dalam upaya memenuhi kebutuhan warga yang terdampak kekeringan.

Pemerintah daerah juga memastikan dukungan anggaran untuk penanganan kebutuhan air bersih masih tersedia. Tambahan alokasi anggaran telah disiapkan melalui perubahan APBD untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan relawan tidak hanya diperlukan ketika terjadi bencana dalam skala besar. Pada situasi kekeringan sekalipun, relawan memiliki peran dalam membantu distribusi bantuan dan memastikan masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar.

Bagi PMI Jawa Timur, kesiapsiagaan merupakan bagian dari pekerjaan kemanusiaan yang harus dipelihara sepanjang waktu. Relawan tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga perlu memahami mekanisme koordinasi dengan lembaga lain ketika menjalankan tugas di lapangan.

Imam menekankan pentingnya kesiapan personel di setiap kabupaten dan kota. Dalam kondisi yang membutuhkan pengungsian, keberadaan relawan yang dapat segera bergerak menjadi bagian penting dari respons awal sebelum penanganan berkembang ke tahap berikutnya.

Semangat “Peduli, Bergerak Bersama” yang diusung dalam HUT ke-81 PMI juga menggambarkan pentingnya kerja bersama dalam menghadapi persoalan kemanusiaan. Pemerintah, relawan, organisasi sosial, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memastikan bantuan dapat diterima oleh warga yang membutuhkan.

Peringatan HUT ke-81 PMI di Gresik juga diisi dengan aksi solidaritas berupa pemberian bantuan sembako kepada perwakilan PMI Kabupaten Banyuwangi, Bojonegoro, dan Blitar. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian dan solidaritas antarpengurus PMI di Jawa Timur.

Dengan memasuki usia 81 tahun, PMI Jawa Timur terus menghadapi tantangan kemanusiaan yang berkembang. Perubahan cuaca, kekeringan, bencana alam, hingga kondisi darurat lainnya menuntut organisasi dan relawan untuk selalu siap merespons.

Kesiapan personel, keberadaan posko, koordinasi dengan BPBD serta pemerintah daerah, dan pemantauan informasi resmi BMKG menjadi sejumlah langkah yang terus ditekankan. Upaya tersebut diharapkan dapat membuat respons terhadap bencana berlangsung lebih cepat dan kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera ditangani.