Pemkot Surabaya Targetkan 2.400 Warga Miskin dan Pramiskin Terserap Dunia Kerja

0
9
Pemkot Surabaya Targetkan 2.400 Warga Miskin dan Pramiskin Terserap Dunia Kerja

SURABAYA | BERITA ADIKARA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan melalui pembukaan akses pekerjaan bagi masyarakat yang belum memiliki penghasilan tetap. Salah satu sasaran utama program tersebut adalah sekitar 2.400 warga yang berasal dari keluarga miskin dan pramiskin dan saat ini membutuhkan pekerjaan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Upaya tersebut dilakukan dengan mempertemukan warga pencari kerja dengan perusahaan yang memiliki kebutuhan tenaga kerja. Pemkot Surabaya melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) tidak hanya berupaya menyediakan informasi lowongan, tetapi juga memberikan pembekalan agar warga lebih siap mengikuti proses rekrutmen.

Kepala Disperinaker Kota Surabaya Agus Hebby Djuniantoro mengatakan, kelompok warga miskin dan pramiskin menjadi salah satu sasaran utama dalam program penyerapan tenaga kerja. Pemerintah menargetkan sebanyak mungkin warga dalam kelompok tersebut dapat memperoleh pekerjaan dan memiliki sumber pendapatan yang lebih stabil.

“Kalau bisa, semuanya bekerja. Tidak hanya sebagian,” kata Agus dalam kegiatan Mini Job Fair bertajuk Surabaya Siap Kerjo, Rabu (16/9/2026).

Menurut Agus, strategi penyerapan tenaga kerja tersebut dilakukan dengan membangun koordinasi bersama berbagai pihak. Selain menggandeng perusahaan di Kota Surabaya, Pemkot juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur untuk membuka alternatif pekerjaan bagi warga yang berminat bekerja di luar negeri.

Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan Pemkot Surabaya dalam menangani kemiskinan. Pemerintah kota tidak hanya memberikan bantuan sosial, tetapi juga mendorong masyarakat usia produktif agar dapat memperoleh pekerjaan sehingga memiliki penghasilan secara mandiri.

Sebelumnya, Pemkot Surabaya telah melakukan pendataan terhadap warga usia produktif yang masuk dalam kelompok Desil 1 sampai Desil 3 dan belum memiliki pendapatan tetap. Dari pendataan tersebut terdapat sekitar 2.463 orang yang dinilai membutuhkan intervensi melalui akses pekerjaan.

Data tersebut kemudian dipadankan dengan peluang kerja yang tersedia di sejumlah perusahaan. Pemkot mencatat sedikitnya 39 perusahaan yang dapat menjadi tujuan bagi warga tersebut untuk mengikuti proses rekrutmen.

Program tersebut tidak berhenti pada penyediaan informasi lowongan. Pemkot juga memberikan pendampingan kepada calon pekerja, mulai dari membantu menyiapkan dokumen lamaran sesuai standar perusahaan hingga memberikan pembekalan menghadapi proses wawancara.

Pendekatan ini dinilai penting karena sebagian warga yang menjadi sasaran program mungkin belum memiliki pengalaman yang cukup dalam menghadapi proses seleksi kerja. Dengan adanya pendampingan, mereka diharapkan lebih memahami tahapan rekrutmen dan mampu menunjukkan kompetensi yang dimiliki kepada calon pemberi kerja.

Upaya mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan juga dilakukan melalui kegiatan bursa kerja. Salah satunya Mini Job Fair “Surabaya Siap Kerjo” yang digelar di Surabaya Urban Creative HUB (SUCH), eks Hi-Tech Mall, pada 16 September 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Surabaya menawarkan 450 lowongan pekerjaan dari 14 perusahaan untuk 76 jenis jabatan. Selain lowongan dalam negeri, kegiatan tersebut juga memberikan informasi mengenai sekitar 1.700 peluang kerja di luar negeri melalui BP3MI Jawa Timur.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya Achmad Zaini mengatakan, bursa kerja menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan masyarakat dengan dunia usaha. Menurutnya, kesempatan tersebut perlu dimanfaatkan oleh pencari kerja, terutama mereka yang sedang membutuhkan pekerjaan sekaligus ingin meningkatkan kemampuan sebelum memasuki dunia profesional.

Pemkot Surabaya juga membuka akses pelatihan bagi masyarakat yang merasa masih memiliki kekurangan dari sisi kompetensi. Pelatihan tersebut dapat diakses melalui Disperinaker sehingga pencari kerja tidak hanya mendapatkan informasi mengenai lowongan, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan keterampilan.

Peningkatan kompetensi menjadi salah satu aspek penting karena kebutuhan industri terus mengalami perubahan. Dunia usaha membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memenuhi persyaratan administratif, tetapi juga memiliki kemampuan teknis maupun soft skill yang sesuai dengan posisi yang tersedia.

Karena itu, Pemkot Surabaya mendorong perusahaan agar turut mengambil bagian dalam upaya memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat. Keterlibatan dunia usaha dinilai penting karena pemerintah tidak dapat menjalankan program penyerapan tenaga kerja secara sendiri.

Program penciptaan lapangan kerja tersebut juga berkaitan dengan strategi Pemkot Surabaya dalam menekan angka kemiskinan dan pengangguran. Pemerintah kota sebelumnya telah mengarahkan berbagai program pembangunan agar tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sebelumnya menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak semata-mata menjadi tanggung jawab perangkat daerah yang menangani bidang sosial. Sejumlah program pembangunan diarahkan agar turut menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah pelibatan warga prasejahtera dalam kegiatan padat karya di tingkat lokal.

Dengan pola tersebut, pemerintah berharap masyarakat yang sebelumnya bergantung pada bantuan dapat secara bertahap memiliki sumber pendapatan sendiri. Pekerjaan menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong kemandirian ekonomi rumah tangga sekaligus mengurangi kerentanan terhadap kemiskinan.

Target penyerapan sekitar 2.400 warga miskin dan pramiskin menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkot Surabaya. Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah lowongan yang tersedia, tetapi juga kesesuaian antara karakteristik pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan.

Karena itu, proses pendataan, pemadanan lowongan, pelatihan, hingga pendampingan rekrutmen menjadi rangkaian yang saling berkaitan. Pemerintah juga perlu memastikan warga yang telah memperoleh pekerjaan dapat mempertahankan pekerjaannya dalam jangka panjang.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, lembaga pelatihan, dan calon pekerja, Pemkot Surabaya berharap semakin banyak masyarakat usia produktif yang sebelumnya belum memiliki penghasilan tetap dapat masuk ke pasar kerja.