Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Doa untuk 135 Korban dan Seruan agar Peristiwa Tak Terlupakan

Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Doa untuk 135 Korban dan Seruan agar Peristiwa Tak Terlupakan
MALANG | BERITA ADIKARA — Empat tahun telah berlalu sejak Tragedi Kanjuruhan mengguncang dunia sepak bola Indonesia. Namun, bagi keluarga korban, penyintas, dan masyarakat Malang, peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober 2022 itu masih meninggalkan duka mendalam. Memasuki peringatan keempat pada Kamis (1/10/2026), masyarakat kembali mendatangi kawasan Stadion Kanjuruhan untuk mengenang para korban sekaligus menjaga ingatan terhadap salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola nasional.
Menjelang peringatan tersebut, sejumlah warga dari berbagai daerah mulai mengunjungi lokasi-lokasi yang memiliki kaitan erat dengan tragedi, termasuk Gate 13, monumen peringatan, dan patung singa di sekitar Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mereka datang untuk berdoa, memberikan penghormatan, serta mengenang orang-orang yang kehilangan nyawa dalam peristiwa tersebut. Berdasarkan laporan ANTARA Jawa Timur pada 30 September 2026, kawasan stadion mulai didatangi pengunjung sehari sebelum peringatan resmi.
Doa bersama untuk mengenang para korban
Peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan diisi dengan kegiatan keagamaan dan doa bersama. Arema FC bersama berbagai kelompok suporter Arek Malang atau Aremania menjadwalkan kegiatan Munajat Akbar bertajuk Doa Untukmu Nawak di halaman Stadion Kanjuruhan pada Kamis malam, mulai pukul 18.30 WIB.
Sementara itu, manajemen Arema FC menggelar kegiatan khataman Al-Qur’an dan tahlil di Kandang Singa, kantor manajemen klub. Kegiatan tersebut menjadi agenda rutin setiap tanggal 1 Oktober yang melibatkan karyawan klub dan masyarakat di sekitar lokasi. Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap dapat mendoakan para korban sekaligus memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kegiatan peringatan tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang mereka yang meninggal dunia. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga korban dan para penyintas untuk kembali menyuarakan pentingnya menjaga ingatan kolektif terhadap tragedi tersebut.
Dalam peringatan tahun sebelumnya, perwakilan keluarga korban, Nuri Hidayat, menyampaikan bahwa doa bersama diperlukan agar peristiwa Kanjuruhan tidak dilupakan. Pesan tersebut kembali relevan ketika masyarakat memperingati empat tahun tragedi yang merenggut 135 nyawa itu.
Mengenang peristiwa 1 Oktober 2022
Tragedi Kanjuruhan bermula setelah pertandingan Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022. Setelah pertandingan berakhir, situasi di dalam stadion berubah menjadi kepanikan ketika gas air mata ditembakkan ke area penonton.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dalam keterangannya mengenai peringatan satu tahun tragedi menjelaskan bahwa gas air mata ditembakkan hingga ke tribun, termasuk tribun 13. Asap kemudian masuk ke lorong dan keluar melalui Gate 13, memicu kepanikan penonton yang berusaha menyelamatkan diri.
Dalam kondisi tersebut, sejumlah orang berdesakan menuju pintu keluar. Penumpukan massa menyebabkan penonton terjepit, terjatuh, dan terinjak-injak. Situasi itu memperparah dampak penggunaan gas air mata dan menimbulkan banyak korban jiwa maupun korban luka.
Jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi tersebut mencapai 135 orang. Di balik angka itu terdapat keluarga yang kehilangan anak, orang tua, saudara, maupun anggota keluarga lainnya. Dampak tragedi juga dirasakan oleh mereka yang selamat, termasuk penyintas yang harus menjalani proses pemulihan setelah mengalami luka fisik dan trauma.
Peringatan menjadi pengingat pentingnya keselamatan suporter
Empat tahun setelah kejadian, peringatan Tragedi Kanjuruhan tidak hanya berkaitan dengan penghormatan kepada korban, tetapi juga dengan evaluasi terhadap penyelenggaraan pertandingan dan pengamanan kegiatan olahraga.
Keselamatan penonton, pengendalian kerumunan, pengelolaan pintu keluar, serta penggunaan kekuatan oleh petugas menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pertandingan sepak bola. Stadion seharusnya menjadi tempat masyarakat menikmati olahraga, bukan ruang yang membahayakan keselamatan mereka.
Proses hukum juga menjadi salah satu aspek yang terus mendapat perhatian. Dalam peringatan satu tahun tragedi pada 2023, Amnesty International Indonesia menilai penanganan perkara belum menyentuh jajaran komando yang lebih tinggi. Pandangan tersebut merupakan kritik dari organisasi hak asasi manusia yang menyoroti perlunya pertanggungjawaban yang menyeluruh. citeturn581841search6
Bagi keluarga korban, kepastian hukum dan perbaikan sistem keselamatan menjadi bagian penting dari upaya memastikan tragedi serupa tidak terulang. Peringatan tahunan dapat menjadi pengingat bahwa penghormatan terhadap korban perlu disertai langkah nyata dalam memperbaiki tata kelola keamanan pertandingan.
Memasuki tahun keempat, Tragedi Kanjuruhan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sepak bola Indonesia. Doa yang dipanjatkan, kunjungan ke monumen, serta kehadiran keluarga dan suporter menunjukkan bahwa ingatan terhadap 135 korban masih terpelihara.
Peringatan ini sekaligus menyampaikan pesan bahwa sepak bola harus menjadi ruang kebersamaan yang menjunjung tinggi keselamatan dan kemanusiaan. Mengenang para korban bukan sekadar mengulang peristiwa masa lalu, melainkan menjaga agar pelajaran dari tragedi tersebut terus menjadi perhatian semua pihak.









