Antisipasi Lonjakan Penumpang Nataru, Kadishub Jatim Kebut Kesiapan Infrastruktur Pelabuhan dan Pangkas Waktu Sandar

0
63
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Nyono, S.T., M.T., IPU.

SURABAYA | BERITA ADIKARA – Menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru Nataru, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perhubungan (Dishub) melakukan serangkaian langkah strategis guna mencegah penumpukan penumpang dan kendaraan di Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Upaya tersebut mencakup percepatan penyelesaian infrastruktur dermaga, penambahan rute penyeberangan, hingga efisiensi waktu sandar kapal.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Nyono, S.T., M.T., IPU., memastikan bahwa sejumlah peningkatan fasilitas pelabuhan yang dikerjakan oleh PT ASDP ditargetkan rampung pada Desember mendatang.

“Peningkatan yang kemarin dibongkar oleh PT ASDP, yaitu Dermaga Ponton yang merupakan pasangan dari Dermaga II Gilimanuk, pertengahan Desember ini ditargetkan sudah selesai. Nanti bisa langsung diuji coba dalam rangka mengantisipasi lonjakan Nataru,” ujar Nyono.

Selain Dermaga Ponton, Nyono menambahkan bahwa penggabungan Dermaga Landing Craft Machine (LCM) juga terus dikebut. Pihaknya berharap pengerjaan Dermaga LCM tersebut dapat rampung sebelum akhir Desember tahun ini.

Guna memecah konsentrasi kepadatan di Pelabuhan Ketapang, Dishub Jatim juga telah merencanakan pengoperasian kapal tambahan. Kapal tersebut akan melayani rute alternatif dari Pelabuhan Jangkar (Situbondo) menuju Pelabuhan Celukan Bawang (Bali) yang dijadwalkan beroperasi pada akhir November ini.

Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk

“Semua ini dilakukan dalam rangka membantu mengurai kepadatan atau antrean di Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk. Kita berusaha agar selama pelaksanaan Nataru nanti tidak ada masalah,” tegasnya.

Di sisi operasional, percepatan proses pengarmuan (waktu sandar dan bongkar muat) juga telah diberlakukan. Waktu pengarmuan yang sebelumnya memakan waktu 45 menit, kini diefisienkan menjadi 35 menit. Langkah ini diambil untuk meminimalisasi jeda yang berpotensi memicu antrean kendaraan.

Meski kesiapan infrastruktur dan operasional telah dimaksimalkan, Nyono mengakui bahwa faktor cuaca ekstrem masih menjadi tantangan terbesar.

Beberapa waktu lalu, pasang surut air laut yang ekstrem sempat melumpuhkan aktivitas penyeberangan selama tiga hari, yang mengakibatkan antrean kendaraan mengular hingga 14 kilometer.

“Terakhir, kita terus berkoordinasi intensif dengan BMKG. Mudah-mudahan saat Nataru nanti tidak terjadi pasang surut yang ekstrem lagi. Masalah cuaca dan pasang surut ini adalah faktor alam yang tidak bisa kita kendalikan, namun kita berupaya agar semuanya berjalan lancar,” pungkas Nyono.