Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal, Ratusan Tewas dan Lebih dari 1.000 Orang Masih Hilang

0
9
Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal, Ratusan Tewas dan Lebih dari 1.000 Orang Masih Hilang

NEPAL | BERITA ADIKARA – Banjir bandang dahsyat melanda wilayah pegunungan di perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu, 26 Agustus 2026. Bencana yang berlangsung secara tiba-tiba tersebut membawa material lumpur, batu, serta aliran air dalam jumlah besar dan menerjang permukiman, jalan, jembatan, hingga sejumlah fasilitas pembangkit listrik.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Besarnya dampak bencana membuat proses evakuasi dan pencarian korban hingga Kamis, 27 Agustus 2026, masih terus dilakukan. Data mengenai jumlah korban juga terus berubah seiring tim penyelamat berhasil menjangkau sejumlah wilayah yang sebelumnya terisolasi. Laporan terbaru Reuters menyebut sedikitnya 359 orang meninggal dunia dan hampir 1.000 orang masih dinyatakan hilang. Sementara laporan lain mencatat jumlah orang yang belum ditemukan telah mencapai lebih dari 1.500 orang ketika korban di Nepal dan Tibet dihitung secara keseluruhan.

Bencana paling parah terjadi di kawasan yang berada di sepanjang aliran sungai, termasuk wilayah Rasuwa dan Nuwakot di Nepal. Aliran air dan material longsoran bergerak dengan cepat sehingga warga hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyelamatkan diri. Sejumlah rumah dilaporkan tersapu arus, sementara kendaraan, jembatan, serta bangunan lainnya ikut hanyut atau tertimbun lumpur.

Kondisi geografis Nepal yang didominasi pegunungan menjadi tantangan tersendiri bagi proses penyelamatan. Banyak wilayah terdampak berada di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Kerusakan jalan dan jembatan semakin memperlambat pergerakan tim penyelamat, sehingga helikopter menjadi salah satu sarana penting untuk mengevakuasi korban dari daerah yang terisolasi.

Bencana tersebut juga berdampak terhadap warga asing yang berada di kawasan perbatasan Nepal-Tibet. Wilayah terdampak merupakan jalur yang banyak digunakan wisatawan, pendaki, serta peziarah yang melakukan perjalanan menuju kawasan Himalaya. Sejumlah warga negara asing dilaporkan masuk dalam daftar orang yang belum ditemukan.

Pemerintah Nepal kemudian mengerahkan personel keamanan, tentara, serta tim tanggap bencana untuk melakukan pencarian dan evakuasi. Operasi penyelamatan dilakukan dengan menyisir kawasan yang tertutup lumpur dan puing-puing bangunan. Helikopter juga dikerahkan untuk membawa korban ke lokasi yang lebih aman sekaligus mengirimkan bantuan ke wilayah yang akses jalannya terputus.

Upaya penyelamatan tidak hanya difokuskan pada pencarian korban yang hilang. Pemerintah juga berusaha memenuhi kebutuhan dasar para penyintas yang kehilangan tempat tinggal. Makanan, air, tempat berlindung, serta pelayanan medis menjadi kebutuhan mendesak di tengah kondisi wilayah yang masih belum sepenuhnya pulih.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah meminta masyarakat tetap bersatu menghadapi bencana tersebut. Pemerintah menyatakan bertanggung jawab terhadap proses penyelamatan, perawatan korban, penyediaan makanan, serta tempat pengungsian bagi masyarakat yang terdampak. Tim pemerintah juga berkoordinasi dengan tenaga medis, Palang Merah, serta berbagai unsur lainnya untuk mempercepat penanganan.

Sementara itu, penyebab bencana menjadi perhatian para ahli. Pada awalnya, peristiwa tersebut sempat menimbulkan dugaan bahwa banjir dipicu oleh aktivitas seismik atau longsor besar. Namun, penyelidikan lebih lanjut menunjukkan adanya keruntuhan bagian gletser di kawasan Himalaya yang kemudian memicu longsoran es dan batu.

Material tersebut masuk ke aliran Lhende Khola, salah satu anak sungai yang terhubung dengan sistem sungai Bhote Koshi. Ketika material dalam jumlah besar masuk ke sungai, aliran air kemudian terdorong secara tiba-tiba dan menghasilkan gelombang banjir yang sangat kuat. Arus tersebut membawa lumpur dan bebatuan menuju kawasan yang lebih rendah dengan kecepatan tinggi.

Reuters melaporkan bahwa runtuhnya bagian gletser di dekat Langtang Lirung memicu longsoran es dan batu yang bergerak menuruni aliran Lhende Khola. Aliran material tersebut kemudian menghancurkan berbagai infrastruktur dalam perjalanan menuju kawasan yang lebih rendah. Dampaknya bahkan terasa hingga wilayah Tibet dan kawasan lain di sepanjang jalur sungai.

Kerusakan yang ditimbulkan juga sangat luas. Sejumlah jalan dan jembatan terputus, sedangkan fasilitas energi mengalami kerusakan sehingga pasokan listrik di sejumlah wilayah terganggu. Infrastruktur penting yang mendukung kehidupan masyarakat maupun aktivitas ekonomi ikut terdampak oleh terjangan material lumpur dan air.

Bencana ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan banjir susulan. Otoritas Nepal dan China memperingatkan adanya peningkatan risiko akibat terbentuknya genangan atau danau di kawasan hulu. Apabila tanggul alami tersebut jebol, air dalam jumlah besar berpotensi kembali mengalir ke wilayah yang berada di bawahnya. Karena itu, masyarakat di daerah yang berada di sekitar aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan evakuasi.

Para ilmuwan turut menyoroti kondisi perubahan lingkungan di kawasan Himalaya. Meningkatnya temperatur global dinilai dapat mempercepat pencairan es sekaligus memengaruhi kestabilan gletser, batuan, dan lapisan tanah beku di wilayah pegunungan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko longsoran, runtuhnya gletser, serta banjir bandang yang terjadi secara tiba-tiba.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa hubungan antara satu kejadian tertentu dengan perubahan iklim harus diteliti secara hati-hati. Faktor lokal seperti kondisi geologi, pencairan salju, kestabilan lereng, dan karakteristik sungai juga dapat berperan dalam memicu bencana.

Hingga kini, proses pencarian dan penyelamatan masih menjadi prioritas. Besarnya wilayah terdampak dan sulitnya medan membuat jumlah korban kemungkinan masih dapat berubah. Pemerintah Nepal bersama tim penyelamat terus berupaya menjangkau lokasi-lokasi yang belum dapat diperiksa secara menyeluruh.