Pameran Turots Jadi Daya Tarik Muktamar ke-35 NU, Ribuan Naskah Kuno Dipamerkan

0
5
Pameran Turots Jadi Daya Tarik Muktamar ke-35 NU, Ribuan Naskah Kuno Dipamerkan

JOMBANG | BERITA ADIKARA – Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin untuk membahas berbagai persoalan organisasi dan keumatan. Rangkaian kegiatan muktamar juga diwarnai dengan hadirnya Pameran Turots yang menampilkan berbagai peninggalan intelektual ulama Nusantara, termasuk manuskrip kuno, kitab-kitab lama, hingga dokumentasi perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Pameran bertajuk “Turots di Muktamar” tersebut digelar oleh Nahdlatut Turots sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang menyertai Muktamar ke-35 NU. Kehadiran pameran ini menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan kembali kekayaan tradisi intelektual Islam Nusantara kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang mungkin belum banyak mengenal keberadaan manuskrip peninggalan para ulama terdahulu.

Pameran tersebut berlokasi di depan Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA), Jombang. Pengunjung dapat melihat secara langsung berbagai koleksi naskah yang memiliki nilai sejarah dan keilmuan tinggi. Materi yang ditampilkan antara lain manuskrip dari sejumlah pesantren di Nusantara, katalog naskah pesantren, karya ulama Nusantara, serta dokumentasi mengenai perjalanan NU dari masa ke masa.

Salah satu koleksi yang menjadi perhatian dalam pameran adalah manuskrip karya Syaikhona Kholil Bangkalan, ulama besar yang memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan tradisi keilmuan pesantren di Indonesia. Selain itu, ditampilkan pula karya para pendiri NU atau muassis NU serta sejumlah karya ulama Nusantara lainnya. Beberapa karya bahkan ditulis menggunakan bahasa Arab, yang menunjukkan luasnya tradisi literasi dan jaringan keilmuan Islam yang berkembang di kalangan ulama Indonesia.

Ketua Panitia Turots di Muktamar, Ayung Notonegoro, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk membuka akses masyarakat terhadap khazanah pustaka ulama Nusantara. Menurutnya, keberadaan manuskrip kuno bukan sekadar peninggalan sejarah yang harus disimpan, tetapi juga merupakan sumber pengetahuan yang dapat terus dipelajari dan dikembangkan.

Peninggalan berupa manuskrip dan kitab kuno menyimpan berbagai gagasan yang lahir dari proses intelektual para ulama pada masa lalu. Karena itu, pengenalan terhadap turots dinilai penting agar generasi sekarang tidak kehilangan hubungan dengan akar tradisi keilmuan yang telah berkembang selama berabad-abad.

Upaya menjaga warisan tersebut juga mendapat perhatian melalui proses digitalisasi. Ketua Nahdlatut Turots, Lora Ustman Hasan, menyebut pihaknya telah melibatkan puluhan pesantren dalam upaya pelestarian naskah. Lebih dari 2.000 manuskrip telah berhasil didigitalisasi, meskipun masih terdapat banyak koleksi yang belum terdokumentasikan secara optimal.

Digitalisasi menjadi langkah penting dalam pelestarian manuskrip karena naskah lama memiliki risiko mengalami kerusakan akibat usia, kondisi lingkungan, maupun proses penyimpanan yang kurang tepat. Dengan adanya salinan digital, isi naskah dapat lebih mudah dipelajari sekaligus menjadi cadangan apabila naskah fisik mengalami kerusakan.

Tidak berhenti pada pameran, rangkaian kegiatan Turots di Muktamar juga menghadirkan Klinik Turots. Layanan tersebut memberikan ruang bagi pemilik atau pengelola manuskrip untuk memperoleh konsultasi terkait dokumentasi, pelestarian, digitalisasi, hingga restorasi naskah. Kehadiran klinik ini diharapkan membantu masyarakat memahami cara merawat manuskrip secara lebih tepat sehingga peninggalan tersebut dapat bertahan lebih lama.

Pameran Turots juga mendapat perhatian dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Ia menilai turots tidak seharusnya dipandang hanya sebagai benda peninggalan masa lalu. Manuskrip karya ulama Nusantara, menurutnya, merupakan bagian dari mata rantai keilmuan yang perlu terus dihidupkan, dikaji, dan dikembangkan agar dapat memberikan kontribusi bagi dunia.

Khofifah juga menekankan pentingnya pelestarian serta digitalisasi manuskrip agar pemikiran ulama Nusantara dapat diakses oleh generasi mendatang. Menurutnya, Jawa Timur memiliki kekayaan tradisi keislaman yang kuat sehingga memiliki potensi besar untuk terus berkontribusi dalam pengembangan khazanah intelektual Islam.

Selain menampilkan manuskrip, kegiatan Turots di Muktamar turut diisi dengan berbagai agenda keilmuan. Di antaranya adalah pelatihan daurah tahqiq, musyawarah besar pegiat turots, pengijazahan sanad ilmiah, hingga seminar yang melibatkan pembicara dari berbagai kalangan.

Pameran ini dibuka untuk masyarakat umum selama rangkaian Muktamar ke-35 NU berlangsung. Pengunjung dapat datang setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB dan tidak dikenakan biaya masuk.

Dengan hadirnya Pameran Turots, Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi forum organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan intelektual Islam Nusantara. Ribuan manuskrip dan karya ulama yang dipamerkan menunjukkan bahwa tradisi keilmuan pesantren memiliki sejarah panjang serta warisan literasi yang sangat luas.

Melalui pameran, digitalisasi, restorasi, dan berbagai kegiatan keilmuan tersebut, upaya pelestarian turots diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial selama muktamar. Lebih jauh, khazanah tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda sekaligus membuka peluang penelitian yang lebih luas mengenai sejarah intelektual Islam di Indonesia.

Pameran Turots pada akhirnya menjadi pengingat bahwa warisan ulama Nusantara tidak hanya berada dalam ingatan sejarah, tetapi juga tersimpan dalam lembaran-lembaran manuskrip yang masih dapat dipelajari hingga sekarang. Upaya merawat dan menghidupkan kembali karya-karya tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam Nusantara di tengah perkembangan zaman.